![]() |
Hikmah Jum`at, 28 Maret 2025 |
Seorang tukang bangunan tua memutuskan untuk mengundurkan diri setelah bertahun-tahun mengabdikan dirinya dalam membangun rumah. Ia merasa lelah dan ingin menikmati sisa hidupnya dengan keluarga.
SUATU hari, ia datang kepada bosnya dan mengajukan pengunduran diri. Namun, sang bos justru meminta satu permintaan terakhir, “Tolong bangunkan satu rumah lagi untuk saya,” katanya.
Meskipun sebenarnya sudah kehilangan semangat, tukang bangunan itu tetap menerima permintaan tersebut. Namun, kali ini ia bekerja tanpa sepenuh hati. Ia menggunakan bahan yang seadanya, tidak memperhatikan detail, dan menyelesaikannya dengan asal-asalan.
Setelah rumah itu selesai, sang bos datang untuk melihat hasilnya. Ia kemudian menyerahkan kunci rumah itu kepada tukang bangunan tersebut dan berkata, “Rumah ini adalah hadiah untukmu. Terima kasih atas kerja kerasmu selama ini.”
Tukang bangunan itu terkejut dan terdiam bengong. Ia menyesal—seandainya saja ia tahu bahwa rumah itu adalah untuk dirinya sendiri, tentu ia akan membangunnya dengan sebaik mungkin.
Dari alur cerita dalam kisah di atas, kita dapat mengambil pelajaran, bahwa pernyataan dalam kisah tersebut mengandung makna yang mendalam tentang bagaimana seharusnya kita menjalani hidup, karena setiap hari, sesungguhnya kita sedang “membangun rumah” bagi diri kita sendiri—baik dalam bentuk amal, karakter, maupun perjalanan spiritual. Sayangnya, banyak di antara kita yang tidak menyadari bahwa semua yang kita lakukan hari ini adalah investasi bagi masa depan kita sendiri.
Setiap langkah yang kita ambil, setiap kata yang kita ucapkan, dan setiap amal yang kita lakukan hari ini adalah investasi bagi masa depan. Layaknya seorang petani yang menanam benih, kita sedang menanam kebaikan atau keburukan yang hasilnya akan kita tuai di hari esok.
“Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)...” (QS. Al-Hasyr: 18)
Seperti seorang investor yang menanam modal untuk mendapatkan keuntungan di masa depan, kita pun sedang berinvestasi dengan amal dan perbuatan kita sendiri. Jika hari ini kita bekerja keras dan jujur, sesungguhnya kita sedang menanam benih rezeki yang berkah di masa depan. Jika hari ini kita beribadah dengan sungguh-sungguh, sesungguhnya kita sedang membangun kedekatan dengan Tuhan yang akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat.
Jika hari ini kita menolong sesama, sesungguhnya kita sedang menanam kebaikan yang suatu saat akan kembali kepada kita dalam bentuk pertolongan di saat kita membutuhkannya. Demikian sebaliknya, jika kita mengabaikan waktu, menyia-nyiakan kesempatan, dan menunda kebaikan, sesungguhnya kita sedang menanam penyesalan yang akan kita rasakan kelak.
Bulan Ramadhan adalah waktu terbaik untuk menanam investasi kebaikan yang tak ternilai. Setiap ibadah yang kita lakukan dalam bulan ini dilipatgandakan pahalanya dan menjadi bekal utama bagi kehidupan setelahnya.
“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)
Jika kita melihat Ramadhan sebagai ladang investasi, maka salat tarawih yang kita lakukan adalah investasi kebahagiaan masa depan, sedekah yang kita keluarkan adalah investasi keberkahan rezeki, Al-Qur’an yang kita baca adalah investasi ketenangan jiwa, dan Doa yang kita panjatkan adalah investasi masa depan yang lebih baik.
Semua yang kita lakukan di bulan ini bukan hanya berdampak pada hidup kita di dunia, tetapi juga akan menjadi bekal utama di akhirat. Banyak dari kita baru menyadari pentingnya investasi amal ketika sudah di akhir hayat.
“Ya Tuhan kami, kembalikanlah kami ke dunia, agar kami dapat mengerjakan amal saleh yang telah kami tinggalkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)
Kata orang Arab, Qad Jaffal Qalam—Tinta sudah kering, artinya waktu sudah habis, tidak ada lagi kesempatan untuk kedua kalinya, kita ingin berinvestasi, tetapi semua pintu sudah tertutup. Maka sebelum saat itu datang, berinvestasilah sekarang dan saat ini. Ingatlah bahwa hidup adalah hasil dari keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari. Jika kita ingin masa depan yang baik, kita harus menanam kebaikan dari sekarang. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena menyia-nyiakan kesempatan untuk berbuat baik.
Bulan Ramadhan adalah kesempatan terbaik untuk menyiapkan bahan berkualitas bagi rumah yang kita bangun. Setiap salat, puasa, sedekah, dan kebaikan lainnya yang kita lakukan adalah material yang akan menentukan kualitas rumah kehidupan kita. Pertanyaannya, Apakah kita sudah atau sedang membangun rumah kehidupan kita dengan sepenuh hati, atau sekadar menggugurkan kewajiban?
Apakah kita menggunakan bahan terbaik, seperti keikhlasan, kesabaran, dan ketulusan?, atau Apakah kita menyelesaikannya dengan kesungguhan atau asal-asalan?. Jika kita menyadari bahwa amal kita di bulan Ramadhan akan menentukan rumah kita di akhirat, maka jalanilah setiap ibadah dengan lebih serius dan penuh penghayatan.
Kisah tukang bangunan di atas sudah cukup untuk memberikan satu pelajaran berharga, bahwa penyesalan selalu datang di akhir. Berapa banyak orang yang di akhir hidupnya menyesali waktu yang mereka sia-siakan? menyesal karena tidak menggunakan kesempatan untuk memperbaiki diri, menyesal karena tidak maksimal dalam menjalankan ibadah, dan menyesal karena baru sadar bahwa setiap amal akan kembali kepada diri sendiri.
Hidup ini sesunggunya rancangan rumah yang kita bangun sendiri. Jika kita ingin rumah yang kokoh dan indah, kita harus membangunnya dengan niat yang benar, bahan terbaik, dan kesungguhan hati, jangan sampai kita menyesal di akhir nanti, seperti tukang bangunan dalam kisah di awal tulisan ini.
Sebagai catatan pinggir, Ramadhan adalah momen istimewa untuk memperbanyak ibadah dan kebaikan, yang akan menentukan kualitas kehidupan di akhirat. Jangan sampai menyesal di akhir karena menyia-nyiakan kesempatan, sebab hidup sebenarnya adalah rumah yang kita bangun sendiri—apakah kita membangunnya dengan baik atau asal-asalan, pilihan ada di tangan kita.
Kisah tukang bangunan di awal tulisan ini mengajarkan bahwa setiap tindakan kita adalah investasi bagi masa depan, baik di dunia maupun akhirat. Seperti membangun rumah, kehidupan ini harus dijalani dengan sungguh-sungguh, ikhlas, dan tentunya dengan amal terbaik.
Penulis: Wakil Rektor II UIN Mataram
0 Komentar