Ramadhan Bulan Efisiensi: Berbicara Penuh Makna Oleh: DR. H. Muhammad Irwan H. Husain, MP

DR. H. Muhammad Irwan H. Husain, MP
TANPA
terasa, sebagai insan yang beriman kita telah berada pada puluhan ketiga bulan Ramadhan 1446 H, tepatnya tanggal dan hari yang 22. Berarti tinggal beberapa hari puasa beserta amaliah-amaliah kebaikan yang menyertainya telah kita lalui dan himpun sebagai bekal kehidupan masa mendatang. 

Ramadhan yang telah kita lakukan terdapat banyak hikmah yang diperoleh baik berkenaan dengan pribadi maupun sosial. Bagi diri pribadi, hikmah yang diperoleh terutama berkenaan dengan penerapan efisiensi dalam menata kehidupan. Puasa telah memberikan pelajaran kepada kita, bahwa hidup ini dijalankan dengan sikap pertengahan, tidak berlebih-lebihan dan tidak pula terlalu hemat. Efisiensi Islami yang dipeorleh pada bulan Ramadhan berdimensi luas, bersifat material dan non material serta  dapat diimplementasikan pada kehidupan setelah bulan puasa berlalu. 

Bulan Ramadhan sebagai bulan mulia karena bulan diturunkannya Al-Qur’an yang mulia, kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya dan menjadi petunjuk bagi orang yang bertaqwa sebagai yang diingin diwujudkan dalam bulan Ramadhan dengan perintah berpuasa dan amaliah-amaliah tambahannya, agar orang yang bertakwa itu akan memperoleh keuntunga hakiki di dunia dan akhirat. 

Kemudian bonus beribadah semalam yang lebih baik dari 1000 bulan setara 84 tahun yang disebut dengan lailatul qadar atau malam kemuliaan. Pada saat ini manusia berlomba-lomba untuk mengerjakan berbagai jenis ibadah yang dianjurkan pada malam hari dan beri’tiqaf di Masjid atau Musholla. Ini semua agar manusia dapat mencapai keuntungan dan menggapai derajat taqwa, suatu derajat yang membedakan antara manusia yang satu dengan lainnya.  


Manusia beriman dan bertakwa yang meraih keuntungan cirinya sangat banyak diuraikan dalam Al-Qur’an salah satunya terdapat dalam surat Al-Mukminun ayat  3  yang artinya “dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna”. Orang yang banyak bicara, tidak memiliki makna dan sia-sia termasuk dalam katagori akhlak yang jelek, dan merupakan salah satu jenis penyakit hati, Oleh karenanya harus dibasmi karena akan merugikan diri sendiri maupun orang lain. 

Perintah puasa mengajarkan manusia untuk menahan bicara sia-sia dan hanya bicara yang memiliki makna positif bagi diri dan orang lain. Sebagai bulan efiiensi, Ramadhan mencegah manusia untuk tidak mengeluarkan kata dan kalimat yang boros, menggumbar janji, menimbulkan nafsu serta membuat banyak orang tertawa. Ramadhan mengajarkan manusia untuk berbicara sekadarnya, memiliki makna, memberi rangsangan positif serta menghibur atau pengobat orang lain dengan kata-kata bijak ditengah permasalahan dan kesedihan yang dihadapinya. 

Pelarangan banyak bicara yang tidak berguna pada bulan Ramadhan adalah sebagai sarana untuk melatih menahan diri selama 30 hari, dan jika dapat dilakukan akan dipraktekkan pada 11 bulan selanjutnya. Ada beberapa jenis bicara yang dilarang adalah 

  • Berdusta (bohong), 
  • mengumpat, 
  • berbantah-bantahan, 
  • memuji dan bersenda gurau. 


Jenis-jenis ini jika dilakukan oleh manusia maka akan membawa pada muka hati menjadi hitam dan gelap yang akan menyebabkan kematian hati. Rasulullah SAW bersabda bahwa “sesungguhnya sebahagian besar kesalahan-kesalahan anak Adam itu terletak pada lisannya. 

Salah satu jenis pembicaraan yang dibahas dalam tulisan ini adalah Memuji. Memuji adalah suatu jenis ucapan yang dapat memberi makna positif dan makna negatif baikbagi orang yang memuji mapun yang dipuji. Memberikan pujian pada sesuatu yang tidak berlebihan adalah diperbolehkan sebagaimana halnya Sekiranya pujian itu tidak menimbulkan bahaya baik pada orang yang memuji dan dipuji, maka hal ini adalah boleh bahkan kadang-kadang digolongkan sunat.  

Rasulullah memberikan pujian kepada para sahabat-sahabatnya seperti  sebagai penambah semangat beribadah, berkarya dan berprestasi dan bukan menyebabkan kesombongan. Salah satu pujian yang diberikan kepada Abubakar adalah :Jika sekiranya iman Abu bakar itu ditimbang dengan iman semua orang ala mini, niscaya imannya Abu Bakar lebih berat”, Begitupan pujian yang diberikan kepada Umar “Seandainya aku tidak diutus oleh Allah sebagai Nabi, niscaya engkaulah yang diutus, wahai Umar. 

Dilarangnya melakukan pujian dan memuji orang lain berlebih-lebihan karena akan membahayakan baik yang memberi pujian maupun yang diberi pujian. Adapun bahaya yang diperoleh orang yang memberikan pujian adalah : 


1. Adakalanya ia melampaui batas dalam memberikan pujiannya, sehingga ia berdusta, karena yang dipuji bukan yang sebenarnya, melainkan untaian kata-kata yang dikarangnya sendiri. 

2. Terkadang ia menampakkan rasa simpati kepada orang yang dipuji, padahal sebanrnya ia tidak simpati. Dalam hal ini ia telah menampakkan sifat kemunafikan karena menampakkan sikat yang bertolak belakang dengan kata hatinya.
3. Adakalanya ia mengucapkan sesuatu yang ia sendiri belum mengetahui kebenarannya, bahkan ia tidak mendapatkan jalan untuk meneliti dan tidak ada keseriusan untuk mencari kebenarannya.
4. Untuk menyenangkan orang yang dipuji,  terkadang ia berbuat zalim. Bahkan tidak segan-segan memasukkan kesenangan dalam hatinya dengan berbuat maksiat. Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allan akan marah terhadap orang fasik yang dipuji”. Hasan r.a berkata : ‘Barangsiapa yang mendoakan panjang umur kepada orang zalim, maka ia telah mencintai kemaksiatan kepada Allah Ta’ala di muka bumi. 

Adapun bahaya yang diterima oleh orang yang dipuji adalah : 

1. Orang yang dipuji akan timbul sifat angkuh, congkak dan sombong serta merasa bangga pada dirinya sendiri. Cogkak dan bangga pada diri sendiri adalah dua hal yang merusakkan jiwa seseorang dan ini merupakan salah satu jenis dari kemiskinan jiwa. 

2. Seseorang yang dipuji biasanya menjadi orang senang dan gembira. Hal ini dapat menjadikan dirinya teledor dan dirinya merasa benar. Di samping itu ia malas berusaha untuk melenyapkan keburukan-keburukan yang ada dalam dirinya, bahkan akan menimbulkan sikap memuji dirinya sendiri, jika tidak adalagi datang pujian dari orang lain.

Orang yang memuji dirinya sendiri baik berkenaan dengan ilmu dan gelarnya, harta yang dimilikinya, kondisi anak-anak keturunannya, maka sejatinay ia telah menurunkan derajatnya dari pandangan orang lain, dan dirinya akan dikutuk oleh Tuhan, dan akan terjerumus bersama orang-orang yang merugi baik di dunia maupun di akhirat.


Demikianlah salah satu ajaran efisiensi yang diajarkan bulan Ramadhan melalui ibadah puasa. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, namun menahan pula segala ucapan yang  dapat menggerus bahkan menihilkan nilai pahala puasa yang diperoleh.

Masih ada kesempatan kita untuk menambah butir-butir amaliah di bulan Ramadhan ini, kita arahkan amaliah-amaliah kita baik berupa materi maupun non materi kepada hal-hal yang penuh makna dan  bermanfaat bagi diri sendiri, bagi orang  lain. Setiap kata dan ucapan menyejukkan orang yang mendengarnya, sehingga orang-orang tersebut selalu menanti hadinya ucapan-ucapan atau goresan-goresan kalimat indah yang menggugah diri untuk melangkah lebih baik lagi sehingga mampu masuk pada golongan orang-orang yang beruntung baik di dunia maupun akhirat……. Aamiin. 

Allah telah meyampaikan hal ini dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ; 114 :

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”.

Penulis : Dosen FEB Universitas Mataram
        Ketua Umum Rukun Keluarga Bima Pulau Lombok (RKBPL)


0 Komentar