Ramadhan : Bulan Efisiensi Berekonomi dan Solidaritas Akan Pamit, Oleh Dr. H. Muhammad Irwan, MP

Dr. H. Muhammad Irwan, MP

TANPA
terasa waktu bergulir telah menghantarkan kita berada di hari ke-28 pelaksanaan ibadah puasa dan amaliah tambahan lainnya. Bulan ramadhan 1446 H yang membawa aneka amaliah wajib dan sunnah, tengah berkemas, mempersiapkan segala sesuatunya untuk kembali ke tempat bersemayamnya dan akan kembali tahun depan dengan kondisi dan suasana yang berbeda.  

Meskipun akan pamit, kini ia masih setia menumpahkan butiran amaliah yang masih tersisa untuk diberikan kepada insan yang beriman guna dimanfaatkan secara maksimal. Ramadhan yang misi sucinya untuk meningkatkan ketakwaan insan beriman, ditengah persiapannya kembali masih setia menemani insan yang mengejar gelar “takwa”, sebagsi gelar tertinggi yang diberikan kepada insan beriman, sekaligus membedakan kedudukannya dibanding dengan manusia lain….. 

Sebagaimana yang sering terdengar dan terucap bahwa Ramadhan adalah bulan menempa kualitas, hakikat dan integritsas, kekokohan, kepedulian, sikap , prilaku diri yang didasarkan pada tata nilai, etika, moral yang semuanya bersumber dari akhlak. 

Ramadhan hadir untuk mengokohkan tujuan diutus dan dihadirkannya Nabi ke dunia yaitu untuk memperbaiki akhlak manusia secara menyeluruh. Ramadhan momen tahunan yang kembali menata dan memperbaiki akhlak manusia setelah terkontaminasi dengan kehidupan yang melawan kekuatan dan dahsyatnya godaan setan dan tekanan hawa nafsu. 

Ramadhan hadir mengembalikan akhlak yang tergores dan tata nilai yang ditinggal dan diabiakan oleh manusia dalam menata kehidupannya selama sebelas bulan.

Bulan Efisien : Prinsip Kesederhanaan Akan Meninggalkan Kita  

Salah satu ajaran Islam yang berkenaan dengan ibadah di bulan ramadhan adalah semakin kokoh terciptanya umat  pertengahan (ummatan wasathan) dan sederhana dalam  segala aspek kehidupan atau bertindak efisien. Ramadhan akan mempersempit  kesempatan syetan untuk menyebarkan godaan pada manusia dan mencegahnya untuk menyibukkan manusia dalam pemborosan seperti  berlebih-lebihan dalam berbicara, berlebih-lebihan dalam makanan,  berlebih-lebihan dalam tidur,  berlebih-lebihan dalam mendengar  dan melihat ha-hal yang tidak perlu, berlebihan-lebihan dalam berjalan dan berprilaku, Bahkan berlebih-lebihan dalam memimpin dalam segala tingkatan dan kegiatan.

Tidak adanya  sikap hemat atau sederhana dalam hal-hal tersebut, akan  menjadi pintu luas bagi syetan untuk menggiring manusia mengikuti langkahnya. Dalam Al-Qur’an Allah telah mengingatkan :: 

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid[534], makan dan minumlah Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (Qs. Al-A’raf; 31). “

Salah satu aktivitas yang menonjol dalam bulan ramadhan ini adalah aktivitas konsumsi, yang dapat membawa dampak bagi perkembangan kehidupan manusia selanjutnya. Prinsip pertengahan atau kesederhanaan berada di antara sikap tidak berlebih-lebihan, boros, mubazir dan royal dan sikapt terlalu hemat, kikir, pelit, dan irit. 

Kesederhanaan merupakan salah satu prinsip berkonsumsi dalam Islam. Manusia dalam melakukan konsumsi makanan dan minuman diperintahkan sekadarnya saja dan tidak berlebih-lebihan karena akan berbahaya bagi Kesehatan dan kondisi ekonomi rumah tangganya. 

Kesederhanaan dalam berekonomi mengandung makna bahwa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup harus bersifat rasional, tidak menggunakannya berdasarkan naluri kebebasan yang tidak terbatas, tetapi harus benar-benar sesuai dengan kebutuhannya. 

Kesederhanaan dalam memenuhi kebutuhan mencirikan manusia yang memiliki kepedulian terhadap orang lain dan alam tempat kehidupannya. Manusia yang menerapkan prinsip kesederhanaan dalam melakukan aktivitas ekonomi, tidak merasakan adanya beban kehidupan. Dia tidak memikirkan untuk memiliki sesuatu yang belum dibutuhkan sangat mendesak untuk menghindari kemubaziran, karena dia tahu mubazir adalah sifat syetan. Dia benar-benar menerapkan prinsip keseimbangan dalam kehidupan, baik untuk dirinya, keluarga maupun lingkungannya. 

Insyaa Allah sikap sederhana ini telah mekelat di dalam diri kita masing-masing, terlebih hasil tempaan puasa yang sudah memasuki 28 hari semakin mengasah diri untuk tetap berada dalam rel kesederhanaan. 


Manusia yang sederhana adalah manusia tidak berlebih-lebihan yang mengundang lahirnya sikap mubazir, boros yang bermuara hadirnya sifat sombong. Dia juga berusaha untuk tidak terlalu berhemat yang menyebabkan hadirnya sifat kikir, pelit yang bermuara lahinrya sifat egois, tidak mau pemperhatikan orang lain.

Sifat boros dan kikir inilah yang dibabat dan diberantas habis oleh perintah puasa di bulan ramadhan. Ramadhan telah mengajarkan kepada kita untuk bersifat efisien, yaitu mengorbankan biaya dan tenaga tidak berlebih-lebihan namun memberikan hasil yang terbaik. Prinsip ini pula yang tengah dilakukan oleh Pemerintah saat sekarang, untuk melakukan penghematan penggunaan anggaran. 

Orang yang kaya yang biasanya berlimpah harta, dapat bertindak efisien dan menerapkan kehidupan sederhana agar dapat merasakan lapar dan dahaga berhari-hari yang dirasakan oleh orang-orang yang tidak punya atau miskin.

Ramadhan hadir untuk memberantas orang yang pelit dan kikir adar memperhatikan orang yang tidak mampu. Mari kita melihat sikap konsumsi dalam bulan ramadhan. Apakah sudah kita terapkan prinsip kesederhanaan dalam berkonsumi. Apakah makanan yang dibutuhkan waktu berbuka adalah sesuai dengan kebutuhan atau tidak. Apakah setelah kita melakukan berbuka atau sahur adakah makanan yang lebih atau tidak. 

Rasulullah SAW bersabda : “Kesederhanaan adalah setengah keberhasilan dalam eknomi.. Kesederhanaan adalah  jalan terbaik bagi segala sesuatu.  Sebagian dari kepandaian dan kebijkasanaan seseorang adalah  bahwa ia memberlakukan  sikap di tengah atau sederhana dalam kehidupan perekonomiannya.

Puasa di bulan ramadhan adalah sarana terbaik untuk menerapkan prinsip kederharnaan dalam berkumsi sehari-hari, agar nilai pahalanya dapat kita peroleh. Jangan sebaliknya, kita melaksanakan ibadah puasa tetapi mubazir dan berfoya-foya terhadap makanan dan minuman. 

Sementara sisi lain, masih banyak saudara kita yang tidak dapat berbuka dengan baik lantaran ketidakmampuannya. Ramadhan hadir untuk mencubit diri kita semua untuk melakukan hal yang seimbang atau sederhana agar tidak terjadi ketimpangan dalam berekonomi. Allah SWT telah mengingatkan : 

“Dan orang-orang yang membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, dan adalah pembelanjaan itu di tengah-tengah antara yang demikian (AL-Furqan; 67).

Bulan Solidaritas Akan Pergi 

Hari-hari ini kita tengah melaksanakan prinsip kesederhanaan terutama bagi orang-orang yang tergolong kaya agar mendistribusikan uang yang dimilikinya untuk orang yang tidak mampu. Orang-orang yang kaya diajak untuk bersikap sederhana, tidak menimbun terlalu banyak uangnya di lembaga-lembaga keuangan kemudian digunakan kepada kegiatan yang foya-foya dan sia-sia.


Ramadhan mengetuk hati para orang kaya agar uang tersebut dapat diberikan kepada orang-orang yang tidak mampu untuk meningkatkan kualitas diri. Uang yang melimpah itu tidak hanya disimpan berharao  bertambah karena adanya bunga, namun ada yang disalurkan untuk membuka kesempatan kerja bagi yang belum bekerja atau menganggur. Berapa kepuasan yang diperoleh dengan memperoleh bunga dibandingkan dengan orang yang berubah status dari penganggur menjadi pekerja. 

Orang yang tidak pernah atau jarang bersedekah kini menjadi gemar bersedekah karena telah menghasilkan pendapatan permanen dan lebih. Berapa kenikmatan yang diperoleh dari bunga uang yang tidak mendapat pahala dibanding disedekahkan kepada orang dengan pahala yang berlipat diperoleh di bulan Ramadhan ini. 

Hari-hari ini pula, kita tengah melaksanakan penyucian jiwa dengan membersihkannya melalui kewajiban berzakat fitrah. Seluruh umat islam saat ini tengah mendistribusikan zakat fitrah untuk menggenapi pelaksanaan ibadah puasa. 

Yang menjadi pertanyaan, saudara-saudara kita yang tengah berjuang mengais rejeki ditumpukan pembuangan sampah yang bau busuk bergarap masih ada yang bernilai ekonomi,  berkeliling mengumpulkan botol mineral bekas, dan yang tidak memiliki apa-apa dapatkah mengeluarkan zakat fitrah. 

Disinilah hebatnya bulan Ramadhan menempa kepekaan diri untuk bersikap sederhana, solidaritas atau peduli pada sesama. Kaum elite dan kaya, dengan menggunakan pakaian mewah atau menggantinya dengan pakaian sederhana dapat terjun langsung ditengah kehidupan mereka. Melihat bagaimana kondisi rumah tangga mereka. Adakah tersedia lemari untuk menyimpan pakaian. Adalah terpampang difan untuk tidur, tersediakah konfor untuk memasak dan kepedihan lainnya. 

Setelah melihat itu apakah jiwanya akan terguncang, atau perasaannya akan terketuk. Jika ia, maka ia akan segera mengambil hartanya untuk diberikan kepada mereka, ia akan tanggung zakat fitrahnya yang 3 kg setara Rp 50.000,-. Dari sini hatinya telah  berhijrah dari kebiasaan hidup mewan, memanfaatkan kekayaan tidak bermakna, menjadi pemanfaatan yang bermakna, menjadi insan yang sedehana dan kerap memperhatikan penderitaan sesama, sehingga ia kerap pula mengeluarkan zakat dan sedekah.

Rasulullah SAW bersabda : Bukan tergolong umatku, bila ada yang tidur nyenyak karenan kekenyangan, sementara ada tetangganya yang tidak bisa tidur nyenyak karena lapar dan dahaga.

Semoga sisa Ramadhan yang 2 hari ini, semakin memacu diri untuk memanfaatkannya, meraih sisa-sisa muatan yang dibawa Ramadhan, dan mampu mewujudkan misi sucinya Ramadhan yaitu meraih gelar takwa, sembari berdoa dapat berjumpa lagi dengan bulan Ramadhan tahun depan dengan kondisi yang berbeda dengan tahun ini……aamiin. 

Penulis: Dosen pada Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Mataram














0 Komentar