![]() |
Hikmah Jum`at, 04 April 2025 |
RAMADAN bulan yang datang seperti tamu istimewa, membawa nuansa spiritual ke dalam sanubari setiap muslim. Ia hadir dengan penuh kemuliaan, menghadirkan ketenangan jiwa, menenangkan hati, serta menyediakan ruang yang luas bagi setiap hamba untuk mendekatkan diri kepada Ilahi dengan lebih khusyuk. Sebagaimana biasanya, bahwa setiap tamu yang datang pasti akan pergi, demikian pula Ramadan yang akhirnya tergulung oleh datangnya Idul Fitri.
Saat gema takbir berkumandang di malam Idul Fitri, rasa haru menyelimuti hati, terasa ada kebahagiaan karena telah menyelesaikan ibadah puasa selama sebulan penuh, tetapi ada juga kesedihan yang menggelayuti jiwa, terbayang nuansa Ramadan yang begitu indah—dengan malam-malam penuh doa, siang hari yang dipenuhi aura kesabaran, serta berbagai ibadah yang menguatkan keimanan—kini berangsur tergantikan oleh suasana perayaan Idul Fitri.
Pertanyaannya, apakah perginya Ramadan berarti hilangnya semangat kebaikan yang telah kita bangun selama sebulan penuh? Apakah momentum spiritual yang kita rasakan selama di bulan suci akan ikut lenyap bersama perayaan Idul Fitri?
Salah satu hal yang perlu direnungkan oleh setiap muslim adalah bagaimana menjaga ruh Ramadan agar tetap hidup di sebelas bulan ke depan. Ramadan bukan hanya sekadar bulan yang diisi dengan ibadah intensif, tetapi juga merupakan madrasah spiritual yang mengajarkan banyak hal kepada kita.
Selama sebulan penuh, kita dilatih untuk menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa—tidak hanya makan dan minum, tetapi juga hawa nafsu, amarah, dan dosa-dosa lisan. Kita terbiasa bangun di sepertiga malam untuk bersujud dan memohon ampunan kepada Tuhan. Kita mendisiplinkan diri untuk memperbanyak membaca Al-Qur'an, memperbanyak sedekah, dan menjalin silaturrahmi.
Namun, apakah semua itu hanya berlaku selama Ramadan saja? Jika setelah Idul Fitri kita kembali kepada kebiasaan lama yang jauh dari semangat ibadah, maka sejatinya kita belum benar-benar memahami makna dari Ramadan itu sendiri.
"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara konsisten, meskipun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, bahwa kita bisa mengambil pelajaran bahwa keberhasilan sejati dari Ramadan, bagaimana kebiasaan baik yang kita bangun tetap lestari setelahnya.
Sering kali, kita menganggap Idul Fitri sebagai titik akhir perjuangan spiritual selama Ramadan, padahal hakikatnya Idul Fitri bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan baru dalam menjaga kesucian hati yang telah kita raih selama Ramadan.
Kata "Idul Fitri" sendiri memiliki makna "kembali" kepada "kesucian" atau "fitrah". Maka Idul Fitri sejatinya adalah momen di mana seorang Muslim kembali kepada fitrah—kembali dalam keadaan bersih setelah menjalani Ramadan dengan penuh kesungguhan.
Fitrah kesucian yang telah kita dapatkan harus kita jaga, dengan menjadikan Idul Fitri menjadi momentum untuk melanjutkan kebaikan, bukan sebagai titik balik yang membawa kita kembali kepada kebiasaan lama. Jika setelah Ramadan kita kembali lalai dalam salat, jarang membaca Al-Qur’an, dan tidak lagi peduli dengan sedekah serta kebaikan lainnya, maka Ramadan kita hanya menjadi rutinitas tahunan yang berlalu begitu saja tanpa makna.
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah, lalu mereka beristiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu." (QS. Fussilat: 30)
Ayat ini mengajarkan kita tentang istiqamah sebagai kunci dari keberhasilan ibadah. Dan Ramadan mengajarkan banyak kebiasaan baik, tetapi hanya mereka yang mampu menjaga kebiasaan tersebut sepanjang tahun yang benar-benar memahami makna Ramadan dan Idul Fitri.
Sering kali kita melihat fenomena di mana masjid penuh selama bulan Ramadan, tetapi kembali sepi setelahnya. Kita melihat tangan-tangan ringan bersedekah di bulan suci, tetapi mulai kaku ketika Syawal menjelang. Kita merasakan kekhusyukan shalat tarawih dan tahajud, tetapi mendadak sulit bangun malam usai gema takbir Idul Fitri mengalun.
Lalu, apakah Ramadan hanya menjadi momen sesaat? Ataukah ia benar-benar telah membentuk karakter dan kebiasaan kita untuk jangka panjang? Sementara tujuan utama dari puasa adalah membentuk manusia yang bertakwa, yakni yang memiliki kesadaran jangka panjang akan kehadiran Tuhan dalam setiap aspek kehidupan—baik di bulan Ramadan maupun di bulan-bulan lainnya.
Namun kenyataannya banyak orang yang menjadikan Ramadan sebagai ibadah musiman, di bulan suci Ramadan mereka rajin membaca Al-Qur'an, memperbanyak doa, bersedekah, dan menahan amarah, tetapi setelah Idul Fitri, semangat itu perlahan memudar. Di sinilah sesungguhnya Tuhan menguji hambanya, siapa dari kita yang benar-benar memahami makna Ramadan dan siapa yang hanya menjalaninya secara ritual.
Orang yang benar-benar memahami Ramadan adalah yang menjadikan bulan suci ini sebagai titik awal perubahan, menjadikan kebiasaan baik yang telah terbangun selama sebulan sebagai bagian dari kehidupan sepanjang tahun, menjaga nuansa puasa Ramadan melalui puasa-puasa sunnah, menjaga salat malam, tetap membaca dan menghafal Al-Qur’an, menjaga hubungan dengan sesama, dan tetap bersedekah dan berbagi dengan sesama.
Ramadan memang telah berlalu, tetapi jejaknya tidak boleh hilang dari kehidupan kita. Cahaya Idul Fitri bukanlah penutup, melainkan awal yang baru, maka marilah kita pertahankan dan terus kita hidupkan ruh Ramadan dalam hidup kita, sehingga setiap hari dalam hidup ini selalu bermakna dan penuh berkah.
Sebagai catatan pinggir, bahwa Idul Fitri sering kali disalahartikan sebagai akhir dari perjuangan spiritual. Padahal idealnya Idul Fitri harus menjadi awal dari perjalanan panjang menjaga kesucian hati yang telah dibangun selama Ramadan.
Ramadan mengajarkan banyak kebiasaan baik, tetapi hanya sedikit dari kita yang mampu menjaga kebiasaan tersebut sepanjang tahun. Ingatlah bahwa orang yang sukses dalam Ramadan bukan hanya mereka yang khusyuk dalam ibadah selama bulan suci itu, akan tetapi mereka yang mampu mempertahankan kebiasaan baik di bulan-bulan berikutnya.
Jika setelah Ramadan kita masih menjaga salat malam, masih rajin bersedekah, masih mampu menahan diri dari amarah, dan masih menjaga hubungan dengan Al-Qur'an, maka itu adalah tanda bahwa kita telah lulus dari madrasah Ramadan.
Sebaliknya, jika setelah Idul Fitri kita kembali lalai, kembali jauh dari Tuhan, dan kembali ke kebiasaan lama, maka kita harus bertanya pada diri sendiri, apakah kita hanya beribadah karena Ramadan atau karena Tuhan?
Ingatlah, bahwa Ramadan sejatinya bukan yang hanya ada didalam kalender, tetapi yang hidup dalam hati dan amalan kita sepanjang tahun.
Penulis: adalah Guru Besar dan Wakil Rektor II UIN Mataram
0 Komentar